Identitas dan Konsekuensi

· 3 minute read

“Fan sori nih, banyak timu yang gak bisa kerja dengan bener. kerjaannya jadi jelek” Kira-kira gitu kata lead

Apabila orang biasa yang berada di kondisi seperti itu, tentu saja akan ter trigger. “Masak, kerjaan yang udah susah susah kubikin dibilang jelek. Mana lagi timku dibilang gak becus, berarti sama aja bilang aku gak becus” Semacam itu.

Tapi kalau buat aku, untung sudah cukup dewasa untuk tidak ter-trigger untuk hal seperti itu. Apa yang membedakan aku dan orang yang kusebut orang biasa itu? Identitas. Mereka terlalu mengidentitaskan suatu apa yang mereka lakukan, mereka kerjakan, mereka percayai.

Karena apabila itu sudah menjadi identitas, itu adalah hal yang absolut benar buat dirinya. Sehingga apabila ada yang force dari luar mempertanyakan itu dan kita tau ada elemen kebenaran disana, kita jadi terguncang.

Sekarang lagi ramai tentang identitas. Semua orang lagi membahas politik. Presiden siapa yang mereka pilih, partai politik siapa yang mereka dukung. Para partisipan dan fanatis mengibarkan bendera politik yang mereka dukung di rumah mereka, mengajak yang lain juga masang, nego dengan ketua wilayah untuk memasang baliho di sekitar kawasan. Kadang ada juga yang enggak ijin.

Pertanyaan nya adalah. Why? Kita tau apabila orang tersebut adalan calon legislatif atau semacamnya. Tapi, apabila mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kedudukan dan kursi politik: Kenapa?

Apakah ini sama dengan apabila kita ngefans dengan artis, atau klub bola? Fanatisme yang seperti itu? Mereka mengidentitaskan diri mereka sebagai pendukung penuh atas apapun yang mereka dukung itu. Mau partai politik, artis, bola, hasil kerjaan, hasil karya, dan lain-lain. Dan jangan salah, identitas ini sangat strong, bisa jadi penggerak yang sangat ampuh. Orang-orang yang merasa memiliki identitas serupa akan entah kenapa memiliki jiwa korsa yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak.

Banyak cerita sejarah mengenai pemimpin karismatik yang berhasil mengumpulkan simpatisan dan anggota kelompoknya yang menjadi sangat fanatik. Yang bahkan akan melakukan sesuatu yang dibilang pemimpinnya sampai setidak masuk akal sekalipun. Cult. Bikin orang-orang mengidentitaskan visi dan misi kelompok , dan kalian akan dapat pasukan siap tempur. Semakin banyak massanya, semakin simple dan semakin bodoh mereka. Mereka akan hanya tau hitam dan putih, 0 dan 1. Kelompok mereka benar, yang lain semua salah. Pasukan kamikaze.

Talleyrand, bangsawan sekaligus penasehat kerjaan prancis pada zaman Napoleon Bonaparte. Pada saat revolusi prancis, ketika ia sudah tua, sedang menatap kericuhan massa dari kaca balkon rumahnya. Buttlernya bertanya: “Tuan, dukung siapa?” “Ssst. Kamu bertanya terlalu cepat, tanyalah aku esok hari, ketika sudah keluar pemenangnya, aku akan menjawab”

Aku juga pernah baca, seorang digital nomad, yang setiap bulan selalu pindah tempat tinggal ke berbagai macam belahan dunia. Sedang mengkritik Portugal. Tentu saja apabila negaranya di kritik oleh orang luar, para netizen tidak tinggal diam. Ada jawaban yang menurutku cocok untuk konteks ini:

“Ketika kamu menjadi terlalu nasionalis, kamu menjadi buta terhadap kekurangan negara kamu sendiri, sehingga kamu tidak bisa berbenah karena kamu bahkan tidak tau apa yang mesti dibenahi”, ya semacam itu.

Aku tidak bilang kita tidak boleh memiliki identitas. Identitas bisa membentengi kita dari berbagai hal. Identitas bisa menjadi ciri khas kita dan bisa membuat kita berada di posisi yang lebih tinggi. Tapi konsekuensi atas memiliki identitas, kita terkadang menjadi bias. Kita tidak menjadi objektif. Dan ujungnya, kita dirugikan.

Related readings:

Identitas dan kepercayaan ini ternyata sudah beberapa kali aku bahas. Bahkan sejak tulisan awal-awal:

Tentang Kepercayaan

Merubah identitas

Identitas

comments powered by Disqus