/rant

· 3 minute read

Jiwa ini selalu berkonflik apakah mesti menjadi orang baik atau orang yang tidak baik. Dimana kita tau, orang-orang yang tidak baik, sangat sering meraup benefit daripada orang yang baik. Orang yang tidak mengikuti aturan selalu lebih sukses daripada orang yang baik. Orang yang menghalalkan segala cara akan selalu mendapatkan yang ia ingin dapatkan didunia ini. Kita selalu di coping, bahwa “Nanti di dunia akhirat, atau di dunia selanjutnya akan berbalik”. Which is, sesuatu yang tidak pernah bisa dibuktikan. Terkadang “Karma” ini juga muncul ketika kelompok itu ketika masih di dunia. Anaknya jadi beginilah, keluarganya begitulah. Sebuah pengingat, yang sangat kecil jumlahnya dibandingkan akumulasi harta dan sesuatu yang sudah diraup oleh orang-orang sejenis, yang tidak pernah dapat “karma” ini. Jadi, kenapa harus menjadi orang baik? Jadi orang baik itu susah. Apa-apa mesti mengikuti aturan. Tidak suka atas sesuatu, tidak bisa membela diri karena nanti akan dikucilkan, dianggap jahat oleh sekitar, society. Menjadi orang baik harus selalu menolong, tanpa belas kasih, iklas, kasih sayang, yang bahkan banyak orang naif yang menolong orang lain dulu baru menolong dirinya sendiri. Di kantor rajin mengerjakan pekerjaan, tapi kalah jabatan dengan orang yang jago menjilat. Aneh. Apa benefitnya dong jadi orang baik? Semakin kesini, kadar “menjadi baik itu harus” didalam diriku semakin mengecil setelah mengingat realita di dunia ini. Tentu kita sering memetakan “orang jahat” itu yang seseorang yang ekstrim. Seperti pembunuh, pengedar narkoba, penculik. Kriminal, bukan. Orang jahat ya, orang yang rela menjatuhkan seseorang, rela membuat kerugian seseorang untuk meraup keuntungan untuk dirinya sendiri. Bukan kriminal yang seperti aku mention diatas. Koruptor? Masuk. Aku sedang berada dalam dualita yang saling berkonflik. Ketidakadilan yang sering didapatkan ketika menjadi orang baik. Keuntungan yang didapatkan secara tidak sengaja ketika secara langsung atau tidak langsung memanfaatkan orang lain. Tulisan ini cuma kegelisahan antara dua itu, karena satu atau berbagai hal eventual yang terjadi beberapa bulan kebelakang. Tentu saja aku masih memilih jadi orang baik. Baik kepada teman, brutal kepada musuh katanya. Sekarang pertanyaannya siapa musuhnya? Kenapa dia bisa jadi musuh? Stoicsm mengajarkan kita untuk selalu “yaudahlah” terhadap berbagai hal. Which is baik, tapi ada tapinya. Tidak bisa semua hal bisa diselesaikan dengan “yaudahlah”. Mungkin kamu dengan dirimu bisa seperti itu, tapi apabila “yaudahlah” mu itu bisa berdampak, dan merugikan orang yang kamu sayangi, kamu tidak bisa yaudahlah lagi. Brutal ke musuhmu. Well mungkin aku masih belum bisa mendapatkan nuance dari stoicism lagi, masih ada ruang untuk mendalami filosofi ini which is good. Dari dulu manusia memang udah saling berperang. Makanya aku tidak begitu kaget ketika pd3 (rusia ukraina) ini terjadi. Sejarahnya memang begitu. Tapi tentu saja aku bias karena aku tidak tinggal di medan perang. Sejak dulu manusia berperang. Nyawa sudah menjadi pion pion taktik pemimpin untuk menaklukan suatu wilayah. Human nature, sulit berubah. Dan oleh karena itu, ya sekarang ada lagi. Bentuknya saja berbeda, tapi tujuannya sama dan drive oleh sesuatu yang sama: human nature. Putin, trump dan raja cina aku lupa namanya digadang-gadang menjadi pemimpin terbaik decade ini. Tapi apakah mereka orang baik? Mereka sangat jauh dari orang baik. Kalau mereka orang baik, mereka tidak akan menjadi pemimpin terbaik. Ironis? Ironis. Tapi realita didunia, kalau ingin memimpin manusia dan menaklukan manusia, yang memang harus menjadi seperti itu. Baik ke teman, which means berperang untuk teman-teman mereka (negara), tapi brutal ke musuh, menghalahkan segala cara untuk meraup keuntungan untuk negaranya. Rant ini disudahi saja karena hati sudah mulai tenang. Non edited.

comments powered by Disqus